Kamis, 09 Mei 2013

Vaksin Dengan Teknologi Nuklir


Salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam penanganan penyakit adalah dengan menggunakan teknik nuklir. Berbagai penyakit yang bersumber dari virus, bakteri, protozoa dan cacing telah banyak yang memanfaatkan teknik nuklir dalam proses pembuatan bahan vaksinnya. Vaksin dapat merangsang sistem imun pada inang untuk melawan infeksi organisme patogen.
Young dalam percobaannya menyatakan bahwa iradiasi dapat mengubah agen penyakit patogen menjadi non patogen yang mampu menstimulasi sistem kekebalan dalam tubuh. Smith juga menyatakan bahwa teknik nuklir/iradiasi dapat melemahkaan agen penyakit tanpa menghilangkan daya imunogeniknya dan  mampu meningkatkan daya kekebalan pada hewan yang dicobakan
Radiasi sinar gamma dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu imunogen yang potensial untuk vaksin dan memicu pembentukan antibodi yang optimal dalam menahan serangan infeksi parasit selanjutnya.
Jenis iradiasi yang biasanya digunakan pada pembuatan bahan vaksin adalah sinar g yang memiliki sifat daya tembus tinggi dan panjang gelombang  pendek. Target utama penyinaran terutama materi genetik yaitu Asam Deoksiribonukleat (DNA). DNA yang terkena bisa mengalami kerusakan secara total maka yang terjadi adalah kematian sel. Sel target tetap hidup tetapi DNA berubah dan terjadi suatu ekspresi gen yang merusak sehingga sel terprogram untuk bunuh diri (apoptosis) atau perbaikan DNA tapi komposisinya berubah (bermutasi). Perubahan DNA (mutasi) ini dapat menghasilkan sel-sel yang bersifat lebih ganas (virulen), atau virulensinya lemah (invirulen). Efek radiasi yang dimanfaatkan pada pembuatan vaksin adalah kematian sel tetapi tetap memiliki sifat antigeniknya menghasilkan mutan-mutan yang memiliki virulensi lemah atau mutan-mutan yang invirulen.
Awal tahun 1970-an, suatu penelitian telah mendemonstrasikan bahwa imunisasi manusia dengan menggigitkan nyamuk Anopheles sp yang membawa P. falciparum diradiasi dalam kelenjar liur ditemukan dapat melindungi sukarelawan terhadap tantangan dengan sporozoit hidup. Kekebalan yang diperoleh sukarelawan disini adalah spesifik spesies dan spesifik stadium tetapi tidak spesifik strain.
Imunisasi melalui gigitan 1000 nyamuk yang diiradiasi, menunjukkan proteksi/sterilisasi terhadap sporozoit normal. Reaksi imun yang mendasari mekanisme ini belum diketahui, kejadian tersebut menunjukkan adanya proteksi respon sel T yang melawan protein parasit yang diperlihatkan pada permukaan hepatosit yang terinfeksi. Respon imun tunggal dalam reaksi imun inang-sporozoit iradiasi sejauh ini tidak teridentifikasi. Dugaan bahwa proteksi terjadi dari beberapa respon imun sederhana melawan sejumlah besar antigen yang diberikan oleh vaksin organisme yang dilemahkan
Sumber :

1. Mendis, K.N. Malaria Vaccines Research. In Malaria: Waiting for The Vaccine. Ed. Targett GAT. John Wiley& Sons, England, 1991
2. Target A.G. Malaria Vaccine 1985-2005 : A Full Cicle. Trends Parasitology vol.21 no.11, November 2005
3. Tetriana, D. Mengendalikan Malaria dengan Teknik Nuklir. Buletin Alara, Volume 8 Nomor 3, 2007
4. Syaifudin, M.dkk. Pengembangan Vaksin Malaria dengan Radiasi Pengion. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II. Lampung, 2008
5. Tetriana, D., Irawan Sugoro. Aplikasi Teknik Nuklir Dalam Bidang Vaksin. Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN, Buletin Alara, Volume 9 Nomor 1&2, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar