Kamis, 09 Mei 2013

Plasmodium berghei


P. berghei adalah hemoprotozoa yang menyebabkan penyakit malaria pada rodensia kecil. P. berghei banyak digunakan dalam penelitian pengembangan biologi pada parasit malaria pada manusia karena sudah tersedianya teknologi pembiakan secara in vitro dan pemurnian pada tahapan siklus hidup, pengetahuan pada susunan genom dan pengaturannya. Secara analisis molekuler P. berghei sama seperti Plasmodium yang menginfeksi manusia. Model ini kemungkinan dapat dilakukan manipulasi hospes sehingga dapat dipelajari perubahan imonologis yang terjadi selama infeksi malaria.
Plasmodium berghei mempunyai siklus hidup maupun morfologi seperti parasit malaria pada manusia, sehingga Plasmodium berghei ini oleh para peneliti digunakan sebagai model penelitian untuk mencari dan mengembangkan obat anti-malaria.  P. berghei pada mencit lebih cepat berkembang daripada roden jenis lainnya.
Sejak tahun 1978, studi tentang parasit malaria sangat meningkat terutama studi pada parasit Plasmodium falciparum. Peningkatan studi ini disusul dengan penelitian terhadap penyakit malaria pada manusia. Plasmodium berghei merupakan salah satu dari banyak spesies parasit malaria yang menginfeksi mamalia dan manusia juga merupakan salah satu dari empat spesies yang menginfeksi mencit Afrika yang telah dideskripsikan. Parasit pada hewan rodensia ini telah dibuktikan analog dengan malaria pada manusia dan primata lainnya terutama aspek struktur, fisiologi dan siklus hidup. Plasmodium berghei merupakan model yang sangat baik untuk penelitian perkembangan biologi dari parasit malaria karena :
a)      Secara biologis parasit pada manusia dan rodensia mempunyai kesamaan.
b)      Susunan genom dan genetika antar parasit rodensia dan manusia tidak berubah-ubah.
c)      Adanya kesamaan karekteristik molekuler terhadap sensitivitas dan resistensi obat.
d)     Struktur dan fungsi antigen sebagai target vaksin yang tetap.
e)      Manipulasi terhadap siklus hidup secara keseluruhan lebih mudah dan aman termasuk sejak dimulainya infeksi oleh gigitan nyamuk.
f)       Kemampuan teknologi yang tersedia untuk pengembangan Plasmodium ini secara in vitro.
g)      Proses penyusunan gen dan proses biokimiawi antar parasit rodensia dan manusia yang tidak banyak mengalami perubahan.
h)      Modifikasi genetik yang telah tersedia.
i)        Memungkinnya pengamatan terhadap interaksi parasit-inang baik secara in vivo dan in vitro. Pengenalan yang baik terhadap clones dan mutant lines secara genetik.
Struktur genetik rodensia sebagai inang yang telah diketahui dengan baik dan jenis transgenik yang telah tersedia dan bermanfaat untuk studi imunologis.

Sumber :
Levine ND. Protozologi Veteriner. Penerjemah Soekardono S, Brotowidjojo MD. Terjemah dari: Veterinary protozology. Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1990
Suryawati, S. dan Herni Suprapti. Efek Anti Malaria Ekstrak Brotowali (Tinospora crispa) pada Mencit yang Diinfeksi Plasmodium berghei. Wijaya Kusuma, Volume I, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar