Rabu, 15 Mei 2013

Faktor Determinan Penyakit Paru Obstruktif Kronik


Peran masing-masing faktor resiko penyebab PPOK telah banyak dipelajari, tetapi seberapa jauh kontribusi masing-masing faktor tersebut terhadap patogensis PPOK  tidak banyak dilaporkan. Adapun beberapa faktor determinan yang menyebabkan PPOK adalah:
a.      Kebiasaan Merokok
Merokok merupakan masalah global, WHO memperkirakan jumlah perokok didunia sekitar 2,5 milyar orang dengan sepertiganya berada dinegara berkembang. Di negara berkembang satu dari empat orang dewasa adalah perokok. Pengidap PPOK yang merokok mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi (6,9 – 25 kali) dibandingkan dengan bukan perokok. Mekanisme kerusakan paru akibat merokok terjadi melalui 2 tahap yaitu jalur utama melalui peradangan yang disertai kerusakan metriks ekstra sel dan jalur ke dua adalah menghambat jalur respirasi matriks ekstrasel. Mekanisme kerusakan paru akibat radikal bebas yang dikeluarkan oleh asap rokok. Bahan utama perusak sel adalah protease, miel peroksidase, anti oksidan dan radikal bebas. Sedangkan yang bertugas meredam bahan tersebut adalah Alfa-1 Anti Tripsin (AAT) yang dapat dirusak oleh miel peroksidase, radikal bebas dan oksidan.
b.      Alfa-1 Antitripsin (AAT)
Alfa-1antitripsin (AAT) adalah senyawa protein atau polipeptida yang dapat diperoleh dari  darah dan cairan bronkus. Alfa-1 atitripsin (AAT) yang ada di saluran pernafasan jumlah sangat sedikit 1-2 % dari plasma darah, dan kapasitas inhibisinya 30% dari aktivitas plasma darah.
c.       Pekerjaan
Faktor pekerjaan berhubungan erat dengan unsur  alergi dan hiperaktifitas bronkus. Dan umumnya pekerja tambang yang bekerja dilingkungan berdebu akan lebih mudah terkena PPOK.
d.      Tempat Tinggal
Orang yang tinggal di kota kemungkinan untuk terkena PPOK lebih tinggi dibandingakan dengan orang yang tinggal di desa. Hal ini berkaitan dengan tempat tinggal antara kota dan desa. Dimana tingkat polusi udara di kota lebih tinggi daripada di desa.
e.       Jenis Kelamin
Pada pasien laki-laki lebih banyak dari pada pasien wanita. Hal ini ditentukan dimana lebih banyak ditemukan perokok laki-laki dibandingkan dengan wanita.
f.        Faktor Genetik
Belum diketahui jelas apakah faktor genetik berperan atau tidak, kecuali pada pasien defisiensi alfa-1antitripsin yang merupakan suatu protein. Defisiensi alfa-1antitripsin merupakan suatu kelainan yang diturunkan secara autosim resesif.
g.      Polusi Lingkungan
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya, tetapi bila ditambah merokok resiko menjadi lebih besar. Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan PPOK adalah zat-zat pereduksi dan zat-zat pengoksidasi seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
h.      Status Sosial Ekonomi
Pada status ekonomi rendah kemungkinan untuk mendapatkan PPOK lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor  lingkungan dan ekonomi yang lebih rendah.
i.        Infeksi Bronkus
Infeksi paru yang berulang-ulang dalam jangka panjang juga meningkatkan resiko terkena PPOK. Terjadi berulang yang diawali  oleh infeksi virus, kemudian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri.
j.        Usia
Gejala PPOK jarang muncul pada usia muda, umumnya setelah usia 50 tahun keatas. Hal ini dikarenakan keluhan muncul karena adanya terpaan asap beracun yang terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Pada orang yang berusia setelah 45 tahun fungsi parunya akan menurun cepat dibandingkan dengan yang tidak merokok, diusia 60 tahun akan muncul gejala-gejala PPOK.
k.       Debu
Perjalanan debu yang masuk kesaluran pernafasan dipengaruhi oleh ukuran partikel. Debu yang masuk ke saluran pernafasan dapat berakibat merusak jaringan setempat dari yang ringan sampai pada yang parah dan menetap. Derajat  kerusakan yang ditimbulkan oleh debu dipengaruhi oleh faktor asal dan sifat alamiah dari debu, jumlah debu yang masuk dan lama paparan yang masuk, dan reaksi imunologis yang terkena paparan.


Sumber :
  1. Ikalius, Yunus., Faisal., Suradi., Rachma, Noer. 2007. Perubahan Kualitas Hidup dan Kapasitas Fungsional Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Setelah Rehabilitasi Paru. Majalah Kedokteran Indonesia Volume 57 Nomor 12. Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta
  2. Tanjung, Dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Fakultas Kedokteran, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara
  3. Jusuf, W., Winarni., Slamet., Hariadi. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Departemen Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Surabaya
  4. Respine, JE., Bast, A., Lankhorst, I. 1997. The Oxydative Stress Study Group. Oxidative Stress In Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Am J Respiratory Crit care Med
  5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. PPOK, Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksaan Di Indonesia. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar