Selasa, 16 Agustus 2011

Interaksi Obat


Definisi
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan; atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat berubah. Tidak semua interaksi obat membawa pengaruh yang merugikan, tetapi beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan, misalnya peristiwa interaksi antara probenesid dengan penisilin, di mana probenesid akan menghambat sekresi penisilin di tubuli ginjal, sehingga akan memperlambat ekskresi penisilin dan mempertahankan penisilin lebih lama dalam tubuh. Interaksi dapat membawa dampak yang merugikan kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak dikenali sehingga tidak dapat dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Sehingga  dampak negatif dari interaksi ini yang kemungkinan akan timbul antara lain:
·         Terjadinya efek samping,
·         Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.

Obat-obat Yang Terlibat Dalam Peristiwa Interaksi Obat
Interaksi obat sedikitnya  melibatkan 2 jenis obat yaitu:
·         Obat obyek, yakni obat yang aksinya atau efeknya dipengaruhi atau diubah oleh obat lain.
·         Obat presipitan (precipitan drug), yakni obat yang mempengaruhi atau mengubah aksi atau menimbulkan efek obat lain.

Obat Obyek
Obat-obat yang kemungkinan besar menjadi obyek interaksi atau efeknya dipengaruhi oleh obat lain, umumnya adalah obat-obat yang memenuhi ciri:
a.       Obat--obat di mana perubahan sedikit saja terhadap dosis (kadar obat) sudah akan menyebabkan perubahan besar pada efek klinik yang timbul. Secara farmakologi obat-obat seperti ini sering dikatakan sebagai obat-obat dengan kurva dosis respons yang tajam (curam; steep dose response curve). Misalnya dalam hal ini pengurangan kadar sedikit saja sudah dapat mengurangi manfaat klinik (clinical efficacy) dari obat.
b.      Obat-obat dengan rasio toksis terapik yang rendah (low toxic:therapeutic ratio), artinya antara dosis toksik dan dosis terapetik tersebut perbandinganya (atau perbedaanya) tidak besar. Kenaikan sedikit saja dosis (kadar) obat sudah menyebabkan terjadinya efek toksis.
Kedua ciri obat obyek di atas, yakni apakah obat yang manfaat kliniknya mudah dikurangi atau efek toksiknya mudah diperbesar oleh obat presipitan, akan saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri-sendiri. Obat-obat seperti ini juga sering dikenal dengan obat-obat dengan lingkup terapetik sempit (narrow therapeutic range). Obat-obat yang memenuhi ciri-ciri di atas dan sering menjadi obyek interaksi dalam klinik meliputi:
Ø  Antikoagulansia seperti warfarin,
Ø  antikonvulsansia (antikejang), antiepilepsi,
Ø  hipoglikemika, antidiabetika oral seperti tolbutamid, klorpropamid dll
Ø  anti-aritmia seperti lidokain,prokainamid dll,
Ø  glikosida jantung seperti digoksin
Ø  antihipertensi
Ø  kontrasepsi oral steroid
Ø  antibiotika aminoglikosida
Ø  Obat-obat sitotoksik
Ø  Obat-obat susunan saraf pusat, dan lain-lain.

Obat presipitan
Obat-obat presipitan adalah obat yang dapat mengubah aksi/efek obat lain. Untuk dapat mempengaruhi aksi/efek obat lain, maka obat presipitan umumnya adalah obat-obat dengan ciri sebagai berikut:
a.       Obat-obat dengan ikatan protein yang kuat, oleh karena dengan demikian akan menggusur ikatan-ikatan yang protein obat lain yang lebih lemah. Obat-obat yang tergusur ini (displaced) kemudian kadar bebasnya dalam darah akan meningkat dengan segala konsekuensinya, terutama meningkatnya efek toksik. Obat-obat yang termasuk dalam kelompok obat dengan ikatan protein kuat  misalnya aspirin, fenilbutazon, sulfa dan lain lain.
b.      Obat-obat dengan kemampuan menghambat (inhibitor) atau merangsang (inducer) enzim-enzim yang memetabolisir obat dalam hati. Obat-obat yang mempunyai sifat sebagai perangsang enzim (enzyme inducer) misalnya rifampisin, karbamazepin, fenitoin, fenobarbital dan lain-lain akan mempercepat eliminasi (metabolisme) obat-obat yang lain sehingga kadar dalam darah lebih cepat hilang. Sedangkan obat-obat yang dapat menghambat metabolisme (enzyme inhibator) termasuk kloramfenikol, fenilbutason, alopurinol, simetidin dan lain-lain,akan meningkatkan kadar obat obyek sehingga terjadi efek toksik.
c.       Obat-obat yang dapat mempengaruhi/merubah fungsi ginjal sehingga eliminasi obat-obat lain dapat dimodifikasi. Misalnya probenesid, obat-obat golongan diuretika dan lain-lain. Ciri-ciri obat presipitan tersebut adalah jika dilihat dari segi interaksi farmakokinetika, terutama pada proses distribusi (ikatan protein), metabolisme dan ekskresi renal. Masih banyak obat-obat lain yang dapat bertindak sebagai obat presipitan dengan mekanisme yang berbeda-beda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar