Jumat, 17 Mei 2013

Pewarna Rambut


Pewarna rambut atau cat rambut adalah bahan yang dapat digunakan untuk mengubah warna rambut baik secara radikal atau keseluruhan yang dapat berasal dari materi tumbuh-tumbuhan, hewan maupun logam dan mineral. Tujuan dari pewarnaan rambut antara lain untuk mewarnai rambut putih yang mulai tampak seiring dengan bertambahnya usia, dan mengubah penampilan warna rambut seluruhnya atau sebagian saja. Mengubah penampilan warna rambut dapat juga dengan penambahan highlights atau toning. Toning rambut berbeda dengan cat cair rambut dimana toning hanya menambah efek rambut menjadi lebih shiny dimana warna shiny-nya tergantung dari warna toning yang digunakan dan tidak merubah warna rambut.
Jenis-jenis pewarna rambut yang ada dimasyarakat antara lain:
1.      Pewarna rambut cair
Adalah jenis pewarna rambut yang sering digunakan, bahan penyusun yang dipergunakan sebagian besar dalam bentuk cair, sebagai contoh bahan yang dipergunakan antara lain air (30-50%), solvent misalnya alcohol atau isopropyl alcohol (30-50%), neutralizer untuk polimer seperti aminomethyl propanediol (0,0-0,5%), plasticizer seperti poliglikol (0,0-0,1%), farfum (0,2%),  dye yang larut air seperti methyl violet Cl 42595 (0,1%) dan colouring agent.
2.      Pewarna rambut setengah padat
Pewrna rambut setengah padat yang biasa ditemukan dipasaran dalam bentuk setengah padat adalah sediaan pasta, sediaan pasta memiliki karakteristik yang berbeda dari sediaan kosmetik cair dapat ditinjau dari pemerian dan sifat alir yang berbeda, bahan yang dipergunakan hampir sama, tetapi berbeda dalam hal sediaan dasar, sediaan dasar adalah berbentuk pasta, sebagai contoh, kombinasi vaselinum dan amylum dapat dibuat sebagai basis pasta

Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Sediaan Padat


Dalam suatu produk farmasi, khususnya sediaan jadi padat, tentulah ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas suatu produk, diantara lain :

1.  Faktor bahan penyusun

a)      Dapar
Merupakan suatu campuran asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya. Tujuannya: Untuk mempetahankan pH, Meningkatkan stabilitas obat, Meningkatkan kelarutan obat, Efek terapetik
Kriteria pemilihan dapar, yaitu ada 4 hal:
  1. dapar mempunyai kapasitas yang memadai dalam kisaran pH yang dinginkan (untuk mempertahankan stabilitas obat maka daparnya kecil)
  2. dapar harus aman secara biologis
  3. dapar tidak mempunyai efek merusak stabilitas produk
  4. memperbaiki rasa dan warna yang dapat diterima
b)     Pengawet
Kemungkinan kontaminasi selama pembuatan, penyimpanan dan penggunaan (sumber kontaminan; berasal dari manusia, bahan obat, bahan tambahan, lingkungan, alat-alat dan bahan pengemas). Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pengawet:
  • Koefisien distribusi liphoid-air à yang dipilih pengawet yang larut 
  • Harga pH à karena pengawet yang dapat menimbulkan aktivitas adalah pengawet yang tidak terdisosiasi atau terdapat dalam bentuk molekul yang dapat menembus membran 
  • Konsentrasi, ada yang menghambat pertumbuhan dan juga mematikan sel 
  • Suhu, dengan kenaikan suhu berarti terjadi kenaikan aktivitas pengawet
Syarat memilih bahan pengawet, yaitu:
  • dapat tersatukan secara fisiologis, tidak toksik, alergi dan sensibilisasi, yang kesemuanya tergantunng dosis 
  • dapat tercampur dengan bahan aktif dan bahan tambahan termasuk wadah dan tutup 
  • bahan pengwet secara fisika, kimia, biologi 
  • tidak berbau dan tidak berasa 
  • efektif sebagai bakteriostatik atau bakterisid, fungiostatik atau fungisid 
  • cukup larut dalam air hingga mencapai konsentarsi yang memadai

c)         Antioksidan
Terjadi oksidasi, oksidasi dipengaruhi oleh:
  • Harga pH à semakin tinggi harga pH semakin rendah potensial redoks sehingga oksidasinya semakin lancar
  • Cahaya à sebab cahaya mengandung energi oton yang dapat meningkatkan atau mempercepat proses oksidasi, maka molekul-molekul obat semakin reaktif
  • O2 atau kandungan O2 à akan meningkatkan proses oksidasi
  • Ion logam berat à berfungsi sebagai katalisator proses oksidasi
 Pertimbangan dalam memilih antioksidan :
  • efektif pada konsentrasi yang menurun
  • tidak toksik, tidak merangsang, dan tidak menimbulkan OTT
  • larut dalam pembawa
  • dapat bercampur
  • hasil interaksi dari bahan aktif dan bahan pembantu

2. Faktor luar.
a.    cara pembuatan
b.   bahan pengemas Terbagi atas 2, yaitu:
  • bahan pengemas primer : langsung bersentuhan atau kontak dengan sediaan (wadahnya)
  • bahan pengemas sekunder : kotaknya
Syarat bahan pengemas :
  • melindungi preparat dari keadaan lingkungan
  • tidak boleh bereaksi dengan produk
  • tidak boleh memberikan rasa atau bau paa produk
  • tidak toksik
  • disetujui oleh FDA
  • harus memenuhi tuntunan tahan banting yang sesuai
  • mudah mengeluarkan isi
  • menarik
bahan-bahan untuk wadah, antara lain berasal dari :
  • gelas
  • plastik
  • tube
kondisi penyimpanan yang meliputi suhu, tekanan, kelembapan dan cahaya. Suhu penyimpanan sediaan harus dijelaskan karena menyangkut aspek stabilitas dan masa kadaluwarsa sediaan. Suhu penyimpanan menurut farmakope indonesia terdiri dari :
  • Dingin adalah pada suhu tidak lebih dari 8°C.
  • Sejuk adalah penyimpanan pada suhu antara 8°C dan 15°C.
  • Suhu Kamar adalah penyimpanan pada suhu ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15°C dan 30°C. 
  • Hangat adalah penyimpanan pada suhu antara 30°C dan 40°C.
  • Panas berlebih adalah penyimpanan pada suhu di atas 40°C.

Perlindungan dari pembekuan selain resiko kerusakan kemasan (wadah), pembekuan suatu sediaan (artikel) dapat menyebabkan kehilangan kekuatan / potensi, atau merusak dan mengubah sifat sediaan. Pada etiket / label kemasan harus dicantumkan petunjuk untuk melindungi sediaan / artikel dari pembekuan. Penyimpanan di bawah kondisi tidak khusus jika tidak ada petunjuk khusus penyimpanan atau pemabatasan dalam monografi, maka kondisi penyimpanan termasuk perlindungan terhadap kelembapan, pembekuan dan panas berlebihan.
Uji stabilitas terhadap penyimpanan berguna untuk mengetahui perubahan yang terjadi selama proses pendistribusian, pada proses transportasi apabila produk ini akan dipasarkan dan juga pada saat produk sampai di tangan konsumen. Untuk memastikan berbagai fungsi sediaan telah sesuai maka sangatlah penting untuk mengamati setiap perubahan yang terjadi, baik perubahan fisik maupun perubahan struktur kimia.
  • Perubahan kimia : perubahan warna, perubahan bau dan pembentukan kristal, perubahan kadar.
  • Perubahn fisik : pemisahan, pengendapan, agregasi, penguapan, cracking.

Penerapan prinsip fisika-kimia tertentu pada pelaksanaan pengkajian stabilitas telah terbukti sangat menguntungkan pengembangan sediaan yang stabil. Hanya pendekatan itu yang memungkinkan pemanfaatan data yang diperoleh dari penyimpanan dalam kondisi yang melebihi keadaan normal secara tepat dan memadai, untuk maksud meramalkan stabilitas pada penyimpanan normal selama jangka waktu yang lama. Sangat penting bagi produsen farmasi untuk meramalkan dengan tepat stabilitas produk baru pada penyimpanan normal dari data penyimpan dipercepat, karena keuntungan ekonomis besar yang diperoleh dari pemasaran prouk baru secepat mungkin setelah formulasinya selesai

Kamis, 16 Mei 2013

Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak


Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.

1.      Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.

Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample  (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini,  hasilnya ternyata kurang obyektif.

2.      Purposive Sampling

Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.

a. Judgment Sampling
Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.
Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik. (Cooper dan Emory, 1992).

b. Quota Sampling
Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.
Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.

3.      Snowball Sampling – Sampel Bola Salju

Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup)

Teknik Sampling : Probability/Random Sampling


Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut. Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.

Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.


Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana

Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :
  1. Susun “sampling frame”
  2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
  3. Tentukan alat pemilihan sampel
  4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi


Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan

Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :
  1. Siapkan “sampling frame”
  2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki
  3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum
  4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.

Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer.

Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.


Cluster Sampling atau Sampel Gugus

Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :

  1. Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.
  2. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel
  3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak
  4. Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample
Systematic Sampling atau Sampel Sistematis


Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”. Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :
  1. Susun sampling frame
  2. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil
  3. Tentukan K (kelas interval)
  4. Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.
  5. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.
  6. Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya

Area Sampling atau Sampel Wilayah

Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :

  1. Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.
  2. Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)
  3. Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.
  4. Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.
  5. Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.